elvan_chen

elvan_chen

Share

happy Father

12/10/2026

Di hadapan Bunda Maria, kutitipkan segala doa, harapan, dan pergumulanku. Bimbinglah langkahku agar selalu dekat dengan Yesus, bahkan saat jalan terasa berat. 🙏🏻🤍
Bunda Maria, doakanlah kami. 🌹

10/10/2026
09/10/2026

Watch your steps dude
God bless

30/09/2026

"Wishing you a happy birthday among the angels, Mom. You may be gone from my sight, but you will never be gone from my heart."

26/09/2026

GIDEON — THE MAN IN THE BIBLE

Ada orang yang dipanggil Tuhan ketika mereka sudah siap.
Tapi ada juga yang dipanggil ketika mereka masih takut, ragu, dan merasa tidak layak.

Gideon adalah salah satunya.
Ketika Israel berada dalam tekanan Midian, Gideon sedang mengirik gandum di tempat pemerasan anggur—bersembunyi untuk menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan.
Namun Tuhan datang dan berkata:
“Tuhan menyertai engkau, hai pahlawan yang gagah berani.”

— Hakim-hakim 6:12
Gideon mungkin melihat dirinya sebagai orang kecil.
Tetapi Tuhan melihat sesuatu yang belum mampu ia lihat.

Gideon bertanya:
“Jika Tuhan menyertai kami, mengapa semua ini terjadi?”
Ia ragu.
Ia meminta tanda.
Ia mencari kepastian.

Namun Tuhan tidak meninggalkannya karena keraguannya.
Tuhan justru membimbingnya melalui proses itu.
Ketika akhirnya Gideon siap berperang, Tuhan malah mengurangi pasukannya.

Dari jumlah yang besar menjadi hanya 300 orang.
Secara manusia, itu tidak masuk akal.

Tetapi Gideon belajar:
Kemenangan tidak selalu bergantung pada seberapa besar kekuatan yang kita miliki, tetapi kepada siapa kita mengandalkan kekuatan itu.
Dan akhirnya Gideon maju.
Bukan karena rasa takutnya hilang.
Tetapi karena ia memilih taat meskipun masih takut.
Gideon yang dahulu bersembunyi akhirnya berdiri di depan.

Gideon yang dahulu bertanya akhirnya melangkah.
Gideon yang merasa dirinya kecil akhirnya dipakai Tuhan untuk melakukan sesuatu yang besar.
Mungkin hari ini kita juga sedang berada di posisi Gideon.

Merasa tidak cukup kuat.
Tidak cukup pintar.
Tidak cukup layak.
Dan bertanya:
“Kenapa harus saya?”
Mungkin pertanyaannya bukan lagi:
“Apakah saya cukup kuat?”
Tetapi:
“Apakah saya bersedia berjalan bersama Tuhan, meskipun saya belum tahu bagaimana akhirnya?”
Karena iman bukan berarti tidak pernah ragu.

Iman adalah memilih untuk tetap percaya dan taat di tengah keraguan.
Mungkin Tuhan tidak sedang mencari manusia yang sempurna.

Dia sedang membentuk manusia yang berani berkata:
“Tuhan, aku masih takut. Aku masih ragu. Tapi aku mau melangkah bersama-Mu.”

GIDEON — THE MAN IN THE BIBLE
Hakim-hakim 6–8

25/09/2026

NUH — KETIKA TUHAN MEMINTA KITA MELANGKAH SEBELUM KITA MEMAHAMI

Bayangkan Nuh menerima perintah Tuhan untuk membangun bahtera, sementara hujan besar belum datang.

Mungkin ada banyak pertanyaan dalam pikirannya:
“Mengapa harus aku?”
“Bagaimana mungkin ini terjadi?”
“Apa kata orang?”
“Apakah keluargaku akan mengerti?”

Namun Tuhan tidak meminta Nuh memahami seluruh rencana-Nya.

Tuhan hanya meminta Nuh percaya dan taat.
Hari demi hari, Nuh membangun bahtera.
Kayu demi kayu.
Pukulan demi pukulan.

Meski mungkin tidak semua orang memahami apa yang ia lakukan.

Pada akhirnya, ketaatan Nuh menjadi jalan keselamatan bagi keluarganya.

Iman bukan selalu tentang mengetahui apa yang akan terjadi.

Iman adalah berani melangkah ketika Tuhan sudah menunjukkan arah.
Mungkin hari ini Tuhan juga sedang meminta kita membangun “bahtera” kita sendiri—sesuatu yang belum kita pahami, belum terlihat hasilnya, bahkan mungkin belum dimengerti orang lain.

Jangan menunggu semuanya masuk akal untuk mulai taat.

Kalau Tuhan sudah menunjukkan jalan, mungkin tugas kita bukan memahami seluruh perjalanan… tetapi mulai melangkah.

📖 “Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya.”
— Kejadian 6:22

PercayaTuhan Renungan Faith ChristianLife GodsPlan Leadership BelajarDariAlkitab

25/09/2026

MENARA BABEL — Ketika Komunikasi Menjadi Kekuatan

Manusia pernah memiliki satu bahasa.
Mereka berkomunikasi, bersatu, bekerja sama, dan menjadi kuat.

Namun ketika kesatuan tidak lagi disertai pengenalan akan Allah, kekuatan itu berubah menjadi kesombongan dan ketamakan.

Mereka membangun menara bukan hanya untuk bertahan, tetapi untuk mencari nama dan meninggikan diri.

Dan ketika komunikasi yang seharusnya menjadi alat untuk membangun berubah menjadi alat untuk membesarkan ego, Allah mengacaukan bahasa mereka.

Yang tadinya satu menjadi banyak.
Yang tadinya memahami menjadi saling tidak mengerti.
Yang tadinya bersama akhirnya tercerai-berai.

Babel mengingatkan kita: komunikasi bukan sekadar tentang kemampuan berbicara dan memahami, tetapi tentang tujuan di balik kesatuan kita.

Karena kita bisa memiliki komunikasi yang hebat, strategi yang kuat, dan tim yang solid—tetapi tanpa kerendahan hati dan pengenalan akan Allah, semuanya bisa berubah menjadi kesombongan.

Bukan hanya: “Seberapa kuat kita berkomunikasi?”
Tetapi: “Untuk apa kita bersatu?”

📖 Kejadian 11:1–9
Teamwork LeadershipLessons Faith KerendahanHati BelajarDariAlkitab

24/09/2026

ABRAHAM — MELANGKAH SEBELUM TAHU KE MANA

Pernahkah Tuhan membawa kita keluar dari sesuatu yang nyaman, tetapi kita sendiri tidak tahu akan dibawa ke mana?

Abraham pernah berada di posisi itu.
Tuhan berkata kepadanya untuk meninggalkan negeri, keluarga, dan rumah yang sudah dikenalnya—lalu pergi ke tempat yang bahkan belum Tuhan tunjukkan kepadanya.

Secara manusia, tentu banyak pertanyaan muncul.
"Bagaimana nanti?"
"Kita akan tinggal di mana?"
"Apakah keputusan ini benar?"
"Bagaimana dengan keluarga?"

Akal meminta kepastian.
Iman meminta keberanian.
Dan mungkin yang paling sulit bukan hanya mengambil keputusan untuk dirinya sendiri, tetapi meyakinkan Sara dan keluarganya untuk ikut berjalan dalam ketidakpastian.

Namun Abraham memilih untuk percaya.
Bukan karena dia tahu seluruh jalan.
Bukan karena semuanya sudah aman.
Bukan karena semua pertanyaan sudah terjawab.
Tetapi karena dia tahu siapa yang memanggilnya.

Kadang Tuhan tidak memberikan kita peta lengkap.
Tuhan hanya menunjukkan satu langkah berikutnya.
Dan mungkin hari ini kita sedang berada di posisi yang sama.

Ada sesuatu yang harus kita tinggalkan.
Ada langkah yang harus kita ambil.
Ada jalan yang belum kita pahami.
Jangan selalu menunggu sampai semuanya terlihat jelas untuk mulai berjalan.

Karena terkadang...
Iman bukan tentang mengetahui ke mana kita akan pergi.
Iman adalah percaya kepada Dia yang menuntun kita.

"Apakah aku tahu jalan di depanku?"
Mungkin belum.
"Apakah aku percaya kepada Dia yang menunjukkan jalan?"
Itulah pertanyaannya.

— Kejadian 12:1

RenunganKristen RenunganHarian PercayaTuhan LeadershipOfFaith BelajarBeriman Kejadian12 TuhanMenuntun

Want your business to be the top-listed Beauty Salon in Bandung Satu?
Click here to claim your Sponsored Listing.

Category

Telephone

Website

Address

Taman Holis Indah Blok G4 No 30
Bandung Satu
40215

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when elvan_chen posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Subscribe

We will notify you when anything happens in Bandung Satu.