Bumil Promil
Bumil Promil adalah Channel Do an Dos Untuk Ibu Hamil dan Program Hamil
01/08/2026
Awal pernikahan, debaran itu men ggi la sampai membuat h a t i ini rasanya ingin m e l e d a k karena bahagia. Tidak pernah terfikir kalau akan memudar dan sampai pada titik hilang tak berjejak.
-- Akmal Atharrayhan --
****
"Apa Aruni membuat keributan lagi?" gumam pria itu sambil melangkah masuk ke dalam r u m a h setelah menutup pintu dengan rapat.
Hari sudah mulai gelap, dan suara adzan dari mesjid komplek sudah mengudara merdu saat keributan di kediaman Akmal masih berlangsung.
"Apa begini seorang ibu?"
Suara mertua Aruni melengking tinggi, menghardik menantunya yang menunduk sejak tadi. Aruni tidak berani mengangkat kepala karena memang merasa salah. Melupakan pengumuman di group sekolah Aishwa, yang menyatakan kalau semua siswa pulang lebih awal dari biasanya.
Beruntunglah mertuanya memang sedang merindukan Aishwa dan berniat berkunjung. Tapi suasana h a t i yang bahagia ingin bertemu dengan cucunya berubah menjadi m a r a h dan geram, karena ternyata Aishwa sudah menunggu dijemput sampai dua jam lamanya. Mertua Aruni sampai meminta maaf dan berterima kasih pada guru Aishwa yang sudah mau menunggu dan menjaga Aishwa di sekolah.
Kemarahannya diluapkan di r u m a h saat menemukan Aruni malah sedang duduk termenung di ruang tengah dengan televisi yang menyala. K e m a r a h a n ibu dari Akmal itu ternyata tidak mudah reda karena sampai hari mulai gelap pun masih berlangsung.
"Ada apa Bu?"
Ibu Rosa menoleh mendengar suara Akmal di belakangnya. Wanita paruh baya yang masih terlihat segar itu melangkah mendekat pada putra semata wayangnya, lalu mengadukan semua yang sudah dilakukan Aruni--menantunya.
"Apa benar itu Aruni?"
Suara Akmal ikut melengking tinggi, telunjuk menuding t a j a m pada istrinya yang sudah menemani selama sembilan belas tahun terakhir. Tekad untuk meminta maaf dan berbicara baik-baik saat di perjalanan tadi menguap begitu saja.
Yang ada sekarang hanyalah amarah dan rasa geram karena Aruni secara tidak langsung sudah menelantarkan putri bungsunya.
"Jawab! Jangan bisanya cuma menangis dan menangis Aruni!"
Dengan gemas Akmal mencengkram pundak Aruni, lalu mengguncang dengan k e r a s hingga kepala Aruni b e r g o y a n g dan mendongak menatap wajah merah padam Akmal. Terlihat wajah Aruni yang sudah sayu dengan mata yang bengkak. Air mata masih mengalir deras di pipi wanita itu.
Melihat wajah Aruni yang sudah sangat memprihatinkan, muncul rasa tidak tega dan iba. Cengkraman tangan Akmal mengendur lalu melepaskan t u b u h lemas Aruni hingga merosot luruh ke lantai.
Sejenak keheningan menyergap ketiga orang dewasa yang ada di r u a n g a n itu. Tanpa mereka sadari Ayesha dan Aishwa menyaksikan seluruh kejadian itu dari balik tembok pembatas antara ruang tengah dan dapur.
Ayesha mengepalkan kedua tangan menahan m a r a h melihat Aruni diperlakukan sedemikian rupa. Meskipun ibunya telah melakukan kesalahan, tapi apa harus diperlakukan begitu oleh nenek dan papa nya?
Merasa tidak berdaya karena tidak bisa membela atau ikut campur dalam pertengkaran orang dewasa, karena mengingat pesan dari ibunya. Akhirnya hanya bisa diam menyaksikan ketidakadilan menimpa Aruni di depan mata.
Sementara itu Aishwa yang masih belum mengerti hanya menyaksikan semua drama itu dengan perasaan bingung. Dia merasa sedih melihat ibunya d i m a r a h i hingga menangis sejak tadi. Tapi dia pun sedang m a r a h pada Aruni karena merasa dilupakan.
"Kenapa selalu memicu k e m a r a h a n dan pertengkaran Aruni?"
Suara Akmal melemah, t u b u h pria itu duduk dengan lemas di sofa tunggal di dekatnya. Ibu Rosa yang sejak tadi m a r a h ikut terdiam setelah melihat k e m a r a h a n Akmal pada Aruni yang tidak terduga. Dia tidak mengira reaksi Akmal bisa begitu emosi mendengar aduannya.
Apa aku sudah berlebihan? gumam bu Rosa dalam h a t i. Matanya menatap iba Aruni yang masih terisak dengan kepala menunduk. Sejak tadi menerima kemarahannya dan Akmal, Aruni tidak sedikit pun membantah dan membela diri.
Yang dilakukan Aruni hanya menangis sejak tadi. Bu Rosa melangkah mendekat lalu berjongkok di dekat Aruni. Tangannya terulur mengelus kepala menantunya dengan s a y a n g.
Wanita paruh baya itu ingat selama sembilan belas tahun terakhir, Aruni adalah menantu yang baik dan tidak pernah membuatnya m a r a h, tapi ada apa dengan hari ini?
"Maafkan ibu," gumam bu Rosa dengan mata berkaca-kaca.
Aruni mendongak lalu menghambur memeluk mertua yang sudah dia anggap ibu kandung sendiri. Tangis Aruni pecah, isakan itu berubah menjadi raungan yang entah kenapa terdengar menyayat h a t i.
"Ibu nggak salah, Aruni yang salah. Maaf Bu, maafin Aruni selama ini."
Deg.
H a t i bu Rosa dan Akmal secara bersamaan merasakan dentuman yang begitu k e r a s setelah mendengar kalimat Aruni. Ibu dan a n a k itu saling melempar pandang, sama-sama merasakan keanehan dari kalimat Aruni barusan.
Apa yang sedang terjadi padamu Aruni?
Judul : Hilangnya Pendar Cinta Arunika
Penulis : Utiira
Yuk, lanjut baca kisah selengkapnya di aplikasi KBM!
📖 Judul: Hilangnya Pendar Cinta Arunika
✍️ Karya: Utiira
17/07/2026
BAB. 6
Jam dinding di ruang tengah berdetak tanpa lelah. Tik, tok, tik, tok. Suaranya terdengar begitu k e r a s, di tengah keheningan malam Jakarta. Seolah mengejek waktu yang berjalan normal sementara dunia sepasang suami istri itu telah berhenti berputar.
Ada kesenyapan di tengah hiruk-pikuk kota yang tak pernah t i d u r. Ada kegalauan di sebuah r u m a h yang cukup elit di kawasan perumahan berkelas di Jakarta. Sepasang suami-istri yang mencemaskan sesuatu yang telah hilang dari sisi mereka.
Udara terasa pengap, padahal jendela sudah dibuka lebar. Membiarkan hawa malam yang lembap masuk bersama deru samar kendaraan di kejauhan.
Di sofa yang terasa terlalu besar dan kosong, Ratih duduk di tepiannya. Tangannya yang mulai keriput saling bertaut di pangkuan.
Meremas satu sama lain tanpa sadar. Ada kesedihan yang terpendam dalam benak perempuan paruh baya itu.
Matanya yang sembap menatap kosong ke depan. Ke arah meja kopi di mana dua cangkir teh melati yang dibuatnya tiga jam lalu sudah dingin tak tersentuh. Tak ada selera untuk menghirup minuman kesukaan keluarga itu.
Asapnya sudah lama lenyap, sama seperti harapan hangat yang sempat ia coba bangun di dalam hatinya. Hanya menunggu waktu untuk menghuni pembuangan lewat westafel di dapur.
Di sudut lain r u a n g a n, Surya, suaminya, berdiri membelakangi jendela. Sosoknya hanya berupa siluet gelap berlatar kerlip lampu kota. Ia tidak bergerak.
Hanya menatap ke luar. Seolah jawaban atas pertanyaan yang m e n g h a n c u r k a n hatinya bisa ditemukan di antara gedung-gedung pencakar langit yang bisu itu. Sudah berjam-jam ia berdiri di sana.
"Sudah malam sekali, Pak," suara Ratih akhirnya memecah keheningan.
Terdengar parau, seperti kertas kering yang diremas.
Surya tidak menoleh. "Aku tahu." Jawabannya pendek dan berat.
Hening lagi. Detak jam kembali mengambil alih. Tik, tok. Setiap detiknya terasa seperti palu kecil yang m e m u k u l d a d a mereka.
"Budi sudah coba dihubungi lagi?" tanya Ratih lagi. Pertanyaan yang sama yang sudah ia ajukan belasan kali sejak petang tadi.
"Ponselnya tidak aktif, Bu. Mungkin baterainya habis. Atau tidak ada sinyal di sana," jawab Surya.
Mengulang jawaban yang sama persis. Ia mencoba membuat suaranya terdengar sabar, tapi ada getar kelelahan dan keputusasaan di baliknya.
Kabar itu datang sore hari. Sebuah telepon dari Budi, teman Amran sesama peneliti. Sekaligus salah satu mahasiswa bimbingan Surya di kampus. Suara Budi di seberang terdengar panik, putus-putus. Ia bilang Amran tidak ada.
Hilang.
Awalnya mereka mengira itu hanya salah paham. Mungkin Amran sedang fokus meneliti di sudut lain. Mungkin ia sedang di toilet. Mungkin ponselnya m a t i dan ia tidak mendengar panggilan teman-temannya.
Tapi jam demi jam berlalu, dan ‘mungkin’ itu berubah menjadi kecemasan. Lalu kecemasan itu membeku menjadi teror yang dingin.
Tim SAR lokal sudah dihubungi. Pihak kepolisian sudah membuat laporan. Tapi semua itu terasa begitu jauh, begitu prosedural.
Yang mereka tahu hanyalah satu. A n a k laki-laki satu-satunya mereka, Amran, lenyap di tengah reruntuhan candi di Trowulan.
"Aku tidak mengerti, Pak," bisik Ratih, lebih pada dirinya sendiri.
"Bagaimana bisa… hilang begitu saja? Di antara teman-temannya?"
Surya akhirnya berbalik dari jendela. Wajahnya terlihat lelah di bawah cahaya lampu r u a n g a n.
"Itu yang aneh, Bu. Menurut Budi, tidak ada yang tahu kapan persisnya Amran memisahkan diri."
Pikiran Surya kembali pada percakapan teleponnya dengan Budi tadi. Suara a n a k muda itu terdengar penuh rasa bersalah.
"Kami sedang menyebar, Pak. Mencatat relief di beberapa bagian candi yang berbeda. Amran bilang dia mau memeriksa sisi belakang, yang bangunannya sudah tidak utuh."
"Kami pikir dia persis di belakang kami… Waktu kami berkumpul lagi menjelang sore, dia sudah tidak ada."
"Kami panggil-panggil, tidak ada jawaban. Kami cari di sekitar sana, hanya tasnya yang tergeletak di dekat akar pohon besar."
Hanya tasnya. Kalimat itu terus terngiang di kepala Surya. A n a k n y a tidak mungkin pergi begitu saja meninggalkan tasnya. Di dalamnya ada dompet, catatan penelitian, dan bekal makan siangnya yang masih utuh.
Ratih bangkit dari sofa, langkahnya pelan menuju k a m a r Amran yang pintunya sedikit terbuka. Ia menyalakan lampu. Semuanya masih sama persis seperti saat Amran berangkat tiga hari yang lalu.
Tempat t i d u r yang sprei-nya sedikit berantakan. Beberapa buku sejarah yang tebal menumpuk di meja belajar. Jaket jins k e s a y a n g a n n y a tersampir di sandaran kursi.
Ratih m e n y e n t u h jaket itu, merasakan kainnya yang k a s a r di ujung jarinya. Ia bisa m e n c i u m aroma samar parfum Amran yang masih tertinggal. Aroma a n a k n y a.
Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya tumpah. Isak tangisnya pecah, suara kesedihan murni yang memenuhi r u a n g a n yang senyap itu. Ia memeluk jaket itu erat-erat, seolah dengan begitu ia bisa memeluk a n a k n y a.
Surya menyusulnya, berdiri di ambang pintu. Hatinya terasa seperti diremas. Melihat istrinya h a n c u r seperti ini jauh lebih menyakitkan daripada merasakan kesedihannya sendiri.
Sebagai seorang ayah, sebagai seorang laki-laki, ia merasa gagal. Ia seharusnya bisa melindungi a n a k n y a.
"Sudah, Bu. Sudah…" katanya pelan. Melangkah masuk dan memegang bahu istrinya yang bergetar.
"A n a k kita, Pak… Amran…" Ratih tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
Surya menarik istrinya ke dalam pelukan. Pelukan yang terasa kaku dan canggung. Ia sudah lama tidak melakukan ini.
Ia menepuk-nepuk punggung istrinya dengan pelan. Mencoba menyalurkan kekuatan yang sebenarnya ia sendiri tidak punya.
"Kita akan temukan dia. Pasti. Amran a n a k yang pintar. Dia pasti bisa menjaga diri."
Ia mengucapkan kata-kata itu, tapi ia sendiri tidak yakin apakah ia mempercayainya.
Mereka kembali ke ruang tengah. Ratih duduk sambil terus memeluk jaket Amran. Surya kembali meraih ponselnya, mencoba menghubungi nomor Budi lagi.
Masih sama. Tidak aktif. Ia membuka galeri foto di ponselnya. Menatap foto terakhir yang dikirim Amran dua hari lalu.
Foto Amran yang tersenyum lebar dengan latar belakang gapura candi yang megah. Di foto itu, Amran terlihat begitu hidup, begitu bersemangat.
Di mana kau sekarang, Nak? Apa yang terjadi padamu? Pertanyaan itu menjerit di dalam benak Surya.
Malam semakin larut. Jalanan di luar semakin sepi. Suara detak jam dinding kini terasa semakin m e n u s u k. Tik, tok. Menghitung detik-detik penantian mereka yang tak berujung.
Surya menatap wajah istrinya yang t e r t i d u r di sofa dalam posisi duduk. Wajahnya terlihat begitu lelah, bahkan dalam t i d u r n y a pun keningnya masih berkerut cemas. Jaket Amran masih berada di dekapannya.
Perlahan, cahaya fajar yang pucat mulai menyelinap masuk dari celah gorden. Mengusir kegelapan malam. Hari yang baru telah datang. Tapi bagi Surya dan Ratih, pagi itu tidak membawa harapan.
Hanya membawa kelanjutan dari mimpi buruk mereka. Di dalam r u m a h itu, malam terasa belum akan berakhir.
BERSAMBUNG
Cerita ini tamat di KBM App
Penasaran dengan kelanjutan kisah seru ini?
Yuk, baca selengkapnya dan dukung karya orisinal penulisnya hanya di aplikasi KBM APP!
Judul: MENIKAHI GADIS YG HIDUP 700 TAHUN LALU
Penulis: Milan Kembara
14/07/2026
𝗞𝗲𝗽𝘂𝘁𝘂𝘀𝗮𝗻 𝗶𝘁𝘂 𝗱𝗶𝗮𝗺𝗯𝗶𝗹 𝗛𝗮𝗶𝗸𝗮𝗹 𝗱𝗮𝗹𝗮𝗺 𝗸𝗲𝗽𝘂𝘁𝘂𝘀𝗮𝘀𝗮𝗮𝗻 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗯 𝘂 𝘁 𝗮.
Melihat Meyra yang mulai berbicara dengan dua suara, dan Pinkan yang nyaris g i l a karena teror yang tak kunjung putus, logika Haikal patah. Ia tidak bisa lagi menunggu doa-doa lembut atau rasionalitas medis.
Ia menghubungi Ki Suro.
Teman lama ayahnya. Sosok yang dulu dihindari keluarga karena desas-desus bahwa ia memelihara "sesuatu" untuk menjaga perkebunan sawit di Sumatera.
"Dia bisa menghentikan semua ini, Ma. Dia k e r a s, tapi ilmunya sampai," bujuk Haikal saat Ki Suro turun dari mobil Jeep tua di depan r u m a h mereka.
Pinkan menatap suaminya dengan mata bengkak. Firasatnya menjerit. "Ayah ... r u m a h ini sudah cukup ramai. Jangan bawa masuk orang asing lagi."
"Dia bukan orang asing. Dia pagar. Kita butuh pagar untuk menabrak apa yang dikirim orang jahat itu."
Tapi Pinkan melihat cara Ki Suro menatap r u m a h mereka. Bukan tatapan prihatin. Melainkan tatapan menantang. Seolah r u m a h ini adalah arena j u d i yang menarik.
Ki Suro tidak banyak bicara. Pria tua berambut putih panjang itu langsung menabur garam k a s a r bercampur bubuk tulang di setiap sudut ruang tamu.
Baunya busuk. Seperti bangkai tikus yang dibakar.
"Karyo ..." gumam Ki Suro, suaranya parau seperti gesekan batu. Ia m e n y e n t u h noda d a r a h di pintu yang belum sepenuhnya hilang. "Ilmu pesisir. K a s a r. Tapi mengikat."
"Bisa Abah bersihkan?" tanya Haikal penuh harap.
Ki Suro menyeringai. Giginya hitam. "Membersihkan itu lama, Nak Haikal. Kalau mau cepat, kita tidak menyapu kotorannya. Kita bawa a n j i n g galak untuk mengusir tikusnya."
Haikal tidak paham metafora itu. Ia hanya mengangguk, menyerahkan segalanya. Pria matang itu tak menyadari bahwa keputusannya kali ini adalah sebuah kesalahan fatal.
Ki Suro mengeluarkan sebuah bungkusan kain kafan lusuh dari tasnya. Isinya pasak besi berkarat yang dililit rambut.
"Tanam ini di pot bunga depan k a m a r a n a k m u. Apa pun yang dikirim Karyo, akan dimakan oleh 'penjaga' di dalam paku ini."
Haikal menurut. Ia menanam paku itu dengan tangan gemetar. Berharap ini adalah akhir dari mimpi buruk mereka.
Satu jam pertama, r u m a h itu hening. Benar-benar hening. Tidak ada suara langkah kaki di atap. Tidak ada tawa a n a k kecil yang biasanya menggema di lorong. Hawa dingin yang m e n u s u k tulang perlahan menghangat.
Pinkan menangis lega di pelukan Haikal. "Berhenti ... Yah, suaranya berhenti."
Haikal m e n c i u m puncak kepala istrinya. "Ayah janji, Ma. Ayah akan lakukan apa saja untuk keluarga kita."
Ki Suro duduk bersila di ruang tamu, matanya terpejam, mulutnya komat-kamit memegang tasbih dari kayu hitam.
amun, kedamaian itu palsu. Itu bukan hening karena damai. Itu hening karena ketegangan. Seperti hutan yang sunyi senyap sebelum badai besar m e n g h a n t a m.
Tiba-tiba—
PRAAAANG!!
Kaca jendela di k a m a r Meyra pecah berkeping-keping. Bukan dari luar ke dalam. Tapi meledak dari dalam ke luar.
Jeritan Jihan dan Meyra terdengar bersamaan. Melengking, menyayat hati.
"MEYRA!!" Pinkan berlari menuju k a m a r mereka.
Haikal hendak menyusul, tapi Ki Suro tiba-tiba muntah d a r a h hitam di ruang tamu. T u b u h tua itu terpental ke belakang seolah d i t e n d a n g oleh raksasa tak kasat mata, menabrak tembok r u m a h hingga retak.
"ABAH!" Haikal panik, bingung harus m e n o l o n g siapa.
Ki Suro terbatuk-batuk, d a r a h kental mengucur dari hidung dan telinganya. Matanya m e l o t o t penuh ketakutan.
"Goblok ...." desis Ki Suro, menunjuk Haikal dengan tangan gemetar. "Kau tidak bilang ... yang menjaga r u m a h ini bukan cuma kiriman Karyo ...."
"Maksud Abah apa?!"
"Ada perjanjian lama di tanah ini! Pakumu ... pakumu malah membangunkan yang t e r t i d u r di pondasi!"
Sementara di k a m a r, suara keributan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih mengerikan.
Suara geraman. Bukan suara kucing. Bukan suara a n a k-a n a k. Tapi suara berat, rendah, seperti n a p a s kerbau yang sedang m a r a h, terdengar dari k a m a r a n a k-a n a k.
Haikal berlari ke k a m a r, jantungnya serasa mau meledak.
Saat ia membuka pintu k a m a r, pemandangan di depannya meruntuhkan akal sehatnya.
Pinkan terpojok di sudut k a m a r, memeluk Jihan erat-erat.
Sementara Meyra ... Meyra melayang.
T u b u h putri kecilnya terangkat sepuluh senti dari k a s u r. Punggungnya melengkung tidak wajar.
Tapi yang membuat Haikal mematung bukanlah itu. Melainkan bayangan di dinding. Cahaya lampu k a m a r menyorot t u b u h Meyra, tapi bayangan yang jatuh di tembok bukan bayangan Meyra.
Bayangan itu besar. Tinggi. Bertanduk. Dan bayangan itu sedang m e n c e k i k bayangan lain yang lebih kecil—bayangan dua a n a k kecil.
Haikal menyadari horor yang baru saja ia ciptakan.
'Penjaga' yang dibawa Ki Suro tidak mengusir h a n t u keluarga Karyo. Mereka justru sedang berperang di dalam t u b u h Meyra. Memperebutkan siapa yang berhak memakan n y a w a a n a k itu.
T u b u h Meyra kejang hebat. Tulang-tulangnya berbunyi k e r a s. Kulitnya mulai melepuh, muncul memar-memar ungu berbentuk jemari tangan besar yang mencengkeram leher, lengan, dan kakinya.
Meyra membuka mulutnya. Dua suara keluar sekaligus. Satu jeritan kesakitan Meyra, dan satu lagi tawa berat menggelegar yang asing.
"S A K I T, AYAH! PANAAAAS!!" jerit Meyra.
Lalu suara berat itu menyahut dari mulut yang sama: "JANGAN CAMPURI URUSAN KAMI! SEKARANG KAMI MINTA T U M B A L GANTI!"
Ki Suro, yang merangkak menuju ke arah k a m a r dengan sisa tenaganya, berteriak dari ambang pintu.
"Haikal! Cabut pakunya! CABUT SEKARANG ATAU A N A K M U PECAH!"
Haikal berbalik, berlari keluar k a m a r seperti orang g i l a menuju halaman depan. Ia menggali tanah di pot bunga dengan tangan kosong, kuku-kukunya patah, tanah masuk ke sela d a g i n g n y a.
Ia menemukan paku berkarat itu. Paku itu panas membara. Asap mengepul darinya.
Haikal berteriak kesakitan saat kulit telapak tangannya melepuh seketika saat m e n y e n t u h besi itu. Bau d a g i n g terbakar menyeruak.
Tapi ia tidak melepaskannya. Ia mencabut paku itu dan melemparnya jauh-jauh ke jalanan.
BLAAAR!
Suara petir menyambar tepat di depan r u m a h, padahal langit cerah berbintang.
Haikal jatuh terduduk, n a p a s n y a memburu, tangannya gemetar hebat dengan luka bakar mengerikan.
Ia menatap ke arah r u m a h. Hening lagi.
Pelan-pelan, Haikal masuk kembali. Ki Suro sudah pingsan di depan pintu. Pinkan menangis tersedu-sedu bersama Jihan dalam pelukannya.
Haikal menyeret langkahnya ke k a m a r Meyra. "Ma? Meyra ... Meyra selamat?"
Pinkan menoleh. Wajah istrinya kosong. Air matanya kering. Ia menunjuk ke tengah k a m a r.
Meyra t e r t i d u r di lantai. Tenang. Tapi saat Haikal mendekat, ia melihat sesuatu di punggung putrinya yang b a j u n y a tersingkap.
Haikal menutup mulutnya, menahan jeritan.
Di punggung Meyra, tercetak jelas luka bakar baru. Bukan luka biasa.
Luka itu membentuk tulisan Jawa kuno yang melepuh merah di kulit putih a n a k n y a.
Haikal tidak bisa membacanya, tapi Ki Suro yang baru sadar dan tertatih di belakangnya, membacanya dengan suara bergetar ketakutan.
"Itu bukan tanda kemenangan, Nak Haikal ...." bisik Ki Suro.
"Apa artinya, Bah? APA ARTINYA?!" Haikal mencengkeram kerah b a j u d u k u n itu.
Ki Suro menatap Haikal dengan tatapan iba sekaligus ngeri.
"Artinya ... 'Sudah Diterima'."
"Apanya yang diterima?"
"T u b u h a n a k m u. Sekarang ... dia sudah resmi menjadi wadah bagi Tuan R u m a h yang baru."
Meyra tiba-tiba membuka matanya. Mata itu merah total. Ia menatap ayahnya dan menyeringai.
"Terima kasih hadiahnya, Ayah. Teman barunya ... lebih kuat dari teman lama."
Bersambung hanya di KBM app.
Judul: S a n t e t Tetangga Toxic
Penulis: Larra Nov
14/07/2026
Bab 3: Letnan Ardi
Dor! Dor! Dor!
Suara letusan senjata laras panjang merobek keheningan malam Hegarsari, menyusul raungan terompet darurat yang belum sempat reda. Detik itu juga, gemuruh jantungku terasa berhenti berdetak. Suara mesiu yang selama ini hanya kudengar dari desas-desus para pedagang pasar kota, kini meletus begitu dekat, tepat di batas jalan atas kampung kami.
Di dalam bilik tengah, b a y i yang baru beberapa menit lalu menghirup udara dunia langsung menangis melengking, seolah ikut merasakan cekaman maut yang tengah mengintai.
"Astaghfirullah! Ti, m a t i k a n lampu teplok! Sekarang!" Suara Mak Euis bergetar hebat di tengah kegelapan yang tiba-tiba m e n c e k a m.
Aku bergerak cepat tanpa sempat berpikir. Dengan n a p a s memburu, kutiup sumbu lampu teplok di ruang tengah dan di dapur hingga padam. Seketika, r u m a h panggung kami jatuh dalam kegelapan yang pekat. Hanya cahaya bulan yang tembus di sela-sela bilik bambu yang menjadi penuntun langkahku.
Di atas dipan, Ratih mengerang ketakutan sambil memeluk erat b a y i n y a. T u b u h n y a yang masih lemah pasca-melahirkan bergetar hebat. "Kang ... Akang ... jangan pergi," rintihnya tersendat, memanggil suaminya yang sudah berlari keluar memanggul senjata.
"Teh, diam ... mohon diam demi b a y i m u," bisikku sambil merangkak mendekati dipan. "Mak, kita harus pindahkan Teh Ratih ke goah."
Goah—ruang rahasia penyimpanan padi di bagian paling belakang r u m a h panggung kami—adalah tempat teraman yang kami punya. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, aku dan Mak Euis memapah t u b u h Ratih yang lunglai, membimbingnya masuk ke dalam r u a n g a n sempit berbau harum gabah kering itu.
Kami menyembunyikan mereka di balik tumpukan karung-karung padi, berharap kegelapan malam dan dinding bambu rangkap bisa menyamarkan keberadaan mereka dari endusan musuh.
Di luar r u m a h, suasana tidak kalah m e n c e k a m. Derap langkah kaki kuda milik patroli NICA di kejauhan terdengar bergemuruh, beradu dengan teriakan-teriakan k a s a r dalam bahasa asing yang membuat bulu kuduk berdiri. Mereka bergerak cepat, mencoba mengepung Kampung Hegarsari yang mereka c u r i g a i menjadi tempat persembunyian pasukan Siliwangi.
Akan tetapi, Letnan Ardi bukan perwira sembarangan. Dari balik celah anyaman bilik goah, aku bisa melihat kilatan bayangan t u b u h tegapnya di halaman r u m a h. Ia mengacungkan tangannya, memberikan isyarat tak bersuara kepada belasan a n a k buahnya.
"Jangan memancing pertempuran di dalam kampung! Pancing mereka ke kebun cengkeh di lereng atas!" perintah Letnan Ardi dengan suara baritonnya yang rendah, tetapi penuh penekanan. Ia tahu betul, jika mereka bertahan di dalam desa, r u m a h-r u m a h panggung warga yang terbuat dari bambu dan atap rumbia akan dengan mudah dibakar oleh tentara Belanda.
Di saat yang sama, kekompakan warga Hegarsari yang luar biasa mulai terlihat. Di tengah kegelapan total, aku melihat siluet Darsa berlari mengendap-endap di antara pohon-pohon pisang. Di tangannya, ia memegang sebilah golok panjang.
Dor! Tar! Dor!
Kontak senjata terdengar pecah di area perkebunan cengkeh, sekitar beberapa ratus meter di atas kampung kami. Kilatan cahaya dari moncong senapan menghiasi langit malam yang pekat. Suara letusan yang saling bersahut-sahutan itu membuat d a d a k u kian sesak. Setiap kali mendengar satu letusan, sepasang mataku terpejam rapat, menggumamkan doa yang sama di dalam hati.
Ya Allah ... selamatkan Letnan Ardi. Juga pasukannya. Jangan biarkan mereka gugur di tanah kami.
Pertempuran itu terasa berjalan begitu lama, menyiksa setiap jengkal kesabaran kami yang bersembunyi dalam senyap.
Akan tetapi, bunyi letusan s e n j a t a a p i itu perlahan mereda, di susul derap langkah kaki kuda yang terdengar menjauh, kembali ke arah jalan raya kota, meninggalkan lereng Salak yang kembali diselimuti sunyi yang m e n c e k a m.
Hampir dua jam setelah ketegangan mereda, suasana kampung masih terasa m a t i. Belum ada warga yang berani menyalakan lampu. Aku duduk bersandaran di tiang dapur, mencoba mengatur n a p a s yang masih terasa memburu.
Krieeek ...
Suara pintu bambu depan yang berderit pelan membuatku spontan menegakkan t u b u h. Tangan kananku otomatis meraih sebilah p i s a u dapur kecil di dekat tempat bumbu. Aku berjalan mengendap-endap menuju ruang tengah yang remang-remang disorot cahaya bulan.
Sebuah siluet t u b u h tinggi besar tampak melangkah masuk, lalu menyandarkan senapan laras panjangnya ke dinding kayu. Bahunya naik turun, n a p a s n y a memburu kuyu.
Letnan Ardi.
Aku mengembuskan n a p a s panjang, menurunkan p i s a u di tanganku. "Letnan ...?" bisikku lirih.
Lelaki itu menoleh cepat. Di bawah temaram cahaya malam yang menembus jendela, aku bisa melihat t u b u h n y a basah kuyup oleh embun malam dan keringat. Seragam hijaunya kini robek di bagian lengan kiri, dan dari sana, mengalir cairan kental berwarna gelap. Dia terluka.
"Siti ... kalian tidak apa-apa?" tanyanya parau. Alih-alih memedulikan lukanya sendiri, hal pertama yang keluar dari mulutnya justru adalah keselamatan kami.
"Kami aman, Letnan. Teh Ratih dan b a y i n y a ada di dalam goah," jawabku, melangkah mendekatinya tanpa ragu. "Tapi lengan Anda ... Anda terluka."
"Hanya goresan peluru nyasar. Tidak apa-apa," ujarnya, mencoba tersenyum meskipun rahang tegasnya tampak menahan perih.
"Jangan k e r a s kepala, Letnan. Di gunung ini, luka kecil yang dibiarkan bisa berubah menjadi r a c u n karena udara lembap," ujarku dengan nada sedikit tegas, sifat keibuan yang kuturun dari Mak Euis tiba-tiba muncul. "Duduklah di bangku itu. Saya ambilkan obat."
Aku berjalan cepat ke dapur, menyalakan korek api untuk membakar sumbu lampu teplok kecil, lalu mengambil sejumput daun babadotan dan sirih yang sengaja disimpan Mak Euis. Setelah menumbuknya k a s a r dengan sedikit garam, aku kembali ke ruang tengah.
Aku duduk di sebuah dingklik kayu kecil di hadapannya. Dengan perlahan, aku meraih lengan kirinya yang kekar. M e n y e n t u h kulitnya yang k a s a r membuat tanganku kembali bergetar, bukan karena takut, melainkan karena sebuah getaran asing yang kembali menyergap d a d a k u.
Letnan Ardi terdiam, matanya yang t a j a m tidak berkedip sedikit pun menatap wajahku yang berada sangat dekat dengannya saat aku membersihkan sisa d a r a h di lengannya menggunakan kain basah.
Suasana di antara kami mendadak menjadi begitu intim, menyisakan suara jangkrik malam dan desau angin gunung di luar r u m a h.
"Maafkan saya, Siti," bisik Letnan Ardi tiba-tiba. Suaranya yang rendah terasa begitu hangat merayapi tengkukku. "Karena kedatangan kami, kedamaian kampungmu h a n c u r malam ini."
Aku menggeleng pelan, meletakkan tumbukan daun herbal ke atas lukanya. Letnan Ardi sedikit meringis, rahangnya mengencang. "Anda sedang berjuang demi tanah ini, Letnan. Hegarsari tidak akan pernah menutup pintu untuk para pejuang. Lagi p**a ... melihat b a y i itu lahir dengan selamat, saya rasa semua ketakutan ini b e r h a r g a."
Aku mendongak, dan tepat di detik itu, mata kami kembali beradu. Jarak di antara kami begitu t i p i s hingga aku bisa merasakan hangat n a p a s n y a. Untuk pertama kalinya, aku melihat mata elang yang biasanya dipenuhi wibawa militer itu melunak sepenuhnya, memancarkan rasa kagum dan kelembutan yang teramat dalam kepada gadis kampung sepertiku.
"Kau gadis yang luar biasa, Siti," katanya dengan suara yang nyaris menyerupai bisikan angin. "Di kota, aku melihat banyak wanita menawan dengan gaun-gaun indah. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki keberanian dan ketulusan sebesar dirimu. Malam ini, kau telah menyelamatkan n y a w a keluarga a n a k buahku."
Pipiku seketika memanas. Aku buru-buru menundukkan kepala, mencoba menyembunyikan rona merah yang pasti terlihat jelas di bawah pendar lampu teplok. Jantungku bertalu-talu, jauh lebih riuh daripada suara alu di r u m a h lesung. Sebuah nama kini benar-benar telah memahat ruangnya sendiri di hatiku dengan begitu dalam.
Setelah selesai membalut lukanya dengan kain bersih, aku hendak berdiri untuk kembali ke dapur. Namun, sebelum aku sempat melangkah, jemari k a s a r Letnan Ardi bergerak cepat, menahan pergelangan tanganku dengan lembut dan erat.
Aku tertegun, berbalik menatapnya dengan pandangan bertanya-tanya.
Wajah Letnan Ardi kembali berubah serius, gurat kecemasan kembali membayangi matanya yang berkilat keperakan. Ia mengembuskan n a p a s panjang yang terasa sangat berat, seolah kata-kata yang akan diucapkannya setelah ini adalah sebuah keputusan yang teramat sulit.
"Siti ... ada satu hal yang harus kukatakan kepadamu," ujarnya parau, menggantung kalimatnya sejenak sambil menatap lurus ke dalam mataku. "Melihat kondisi Ratih yang masih terlalu lemah setelah p e n d a r a h a n, dan beberapa a n a k buahku yang cedera akibat pertempuran tadi ... pasukan Siliwangi tidak bisa melanjutkan perjalanan besok subuh. Kami harus menetap secara rahasia di kampung ini selama beberapa minggu ke depan."
Kata-katanya laksana petir di siang bolong. Aku terpaku di tempat, menyadari sepenuhnya apa arti keputusan itu. Menetapnya belasan tentara di Hegarsari yang seketat itu akan memicu k e c u r i g a a n besar dari orang-orang seperti Nini Ipah, dan yang paling mengerikan ... ancaman bahwa Belanda bisa kembali kapan saja untuk meratakan kampung kami dengan tanah.
Bersambung
Penasaran dengan kelanjutan kisah seru ini?
Yuk, baca selengkapnya dan dukung karya orisinal penulisnya hanya di aplikasi KBM App!
Judul: Tujuh Purnama
Penulis: Ismi Naida
Click here to claim your Sponsored Listing.
Category
Telephone
Website
Address
Sidoarjo
61258
