Mohammad Alfiansyah
Contact information, map and directions, contact form, opening hours, services, ratings, photos, videos and announcements from Mohammad Alfiansyah, New York, NY.
09/30/2026
Siang itu, Alfiansyah berjalan bersama keluarganya melewati sebuah pasar yang ramai. Orang-orang sibuk berbelanja, pedagang sibuk melayani pembeli, dan suara kendaraan terdengar dari kejauhan.
Di tengah keramaian itu, Alfiansyah melihat seekor kucing jalanan kecil duduk sendirian di dekat lapak pasar.
Bulunya kusam dan tubuhnya terlihat sangat lemah. Ia hanya menatap orang-orang yang lewat, seolah berharap ada seseorang yang mau memberinya sedikit makanan.
Namun satu per satu orang berlalu begitu saja.
Tidak ada yang berhenti.
Tidak ada yang memberinya makan. 😭
Alfiansyah merasa sedih melihatnya.
Ia kemudian mengambil makanan yang dibawanya dan menghampiri kucing kecil itu.
“Kamu lapar, ya? Makanlah… aku tidak tega melihat kamu sendirian.” 🥺💔
Alfiansyah meletakkan makanan di hadapannya. Kucing itu langsung mendekat dan makan dengan lahap, seakan sudah lama sekali tidak mendapatkan makanan.
Alfiansyah hanya tersenyum sambil memperhatikannya.
Di tengah pasar yang begitu ramai, ternyata ada satu makhluk kecil yang hanya membutuhkan sedikit makanan dan sedikit kasih sayang.
Hari itu, Alfiansyah mungkin hanya memberikan sepiring makanan.
Tetapi bagi kucing kecil itu, kebaikan Alfiansyah terasa seperti pertolongan yang sangat berarti. 🥺🐱❤️
“Semoga setelah hari ini, tidak ada lagi kucing yang kelaparan sendirian di jalan.” 😭💔
09/23/2026
Sore itu, Alfiansyah berjalan pelan di pinggir jalan. Langit mulai mendung, dan angin bertiup cukup dingin. Di tengah suara kendaraan yang berlalu-lalang, tiba-tiba ia mendengar suara kecil.
“Meong... meong...”
Alfiansyah berhenti.
Di dekat sebuah kotak kardus yang sudah basah, ia melihat seekor anak kucing kecil. Tubuhnya kurus, bulunya kotor dan basah. Anak kucing itu hanya bisa duduk diam sambil menundukkan kepalanya.
Alfiansyah mendekat perlahan.
“Kenapa kamu sendirian?” bisiknya.
Anak kucing itu hanya menatapnya dengan mata yang lemah. Perutnya terlihat sangat kurus. Rupanya ia sudah lama tidak makan.
Alfiansyah melihat sekeliling. Tidak ada siapa-siapa.
Ia kemudian membuka bekalnya. Hanya tersisa sedikit makanan, yang sebenarnya ingin ia simpan untuk dirinya sendiri.
Namun ketika melihat anak kucing itu menggigil kelaparan, Alfiansyah tidak tega.
“Kamu makan saja... Aku masih bisa menahan lapar.”
Ia memberikan makanannya sedikit demi sedikit.
Anak kucing itu langsung makan dengan lahap.
Alfiansyah tersenyum, tetapi matanya mulai berkaca-kaca.
Ia membelai kepala kecil itu.
“Jangan takut... Sekarang kamu tidak sendirian.”
Tiba-tiba hujan turun.
Alfiansyah memeluk anak kucing itu dan menutupinya dengan bajunya agar tidak kehujanan. Tubuh kecil itu menggigil di dalam pelukannya.
Alfiansyah sendiri basah kuyup.
Di tengah derasnya hujan, ia menangis diam-diam.
Bukan karena dirinya lapar.
Tetapi karena ia membayangkan...
“Bagaimana kalau tadi aku tidak datang?”
Anak kucing itu mungkin akan tetap sendirian, kelaparan, dan kedinginan di pinggir jalan.
Alfiansyah memeluknya semakin erat.
“Mulai hari ini, kamu punya teman,” katanya dengan suara bergetar.
Anak kucing itu kemudian mengeong pelan dan menyandarkan kepalanya di dada Alfiansyah.
Untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa aman.
Dan di pinggir jalan yang ramai, di tengah hujan yang tak kunjung berhenti, dua makhluk kecil yang sama-sama membutuhkan kasih sayang akhirnya menemukan satu sama lain. 🥺❤️🐱
09/23/2026
Assalamualaikum semua..
09/16/2026
Hujan turun begitu deras sore itu. Jalanan kampung berubah menjadi lumpur, sementara orang-orang memilih berlindung di dalam rumah masing-masing.
Di tengah hujan, seorang anak kecil bernama Alfiansyah berdiri tanpa alas kaki di depan sebuah rumah kayu.
Tubuhnya basah kuyup. Matanya penuh air mata.
Di pelukannya ada seekor kucing kecil yang kurus dan menggigil kedinginan. Alfiansyah memeluknya erat-erat, seolah-olah hanya kucing itu satu-satunya teman yang ia miliki.
Namun tiba-tiba, seorang lelaki keluar dari rumah dan mengusir mereka.
“Pergi! Jangan berdiri di sini!”
Alfiansyah hanya terdiam. Ia menundukkan kepala sambil menangis.
Ia melihat kucing kecil dalam pelukannya, lalu berbisik,
“Maaf ya... aku juga tidak tahu harus membawa kamu ke mana.” 😭💔
Alfiansyah berjalan perlahan meninggalkan rumah itu. Kakinya kotor oleh lumpur, tubuhnya menggigil diterpa hujan.
Tidak ada payung.
Tidak ada tempat berteduh.
Tidak ada yang datang memanggil namanya.
Yang tersisa hanyalah sebuah kantong kecil berisi makanan seadanya yang ia bawa untuk kucing itu.
Di sepanjang jalan, Alfiansyah terus memeluknya.
Air matanya bercampur dengan air hujan.
Bagi orang lain, mungkin kucing itu hanyalah seekor kucing jalanan.
Tapi bagi Alfiansyah...
kucing kecil itu adalah sahabat yang tidak pernah meninggalkannya.
Malam semakin gelap.
Alfiansyah akhirnya duduk di bawah atap kecil yang hampir roboh. Ia membagi makanan terakhirnya kepada kucing itu.
Ia sendiri belum makan.
Namun ketika kucing itu mulai makan, Alfiansyah tersenyum kecil sambil mengusap kepalanya.
“Kamu makan saja... aku tidak apa-apa. Yang penting kamu jangan lapar.” 😭💔
Dan malam itu, di tengah hujan yang tidak kunjung berhenti, seorang anak kecil bernama Alfiansyah hanya bisa memeluk sahabat kecilnya sambil berharap...
semoga suatu hari nanti ada seseorang yang mau membuka pintu untuk mereka. 🥺🐈💔
Allahuakbar 😢
09/02/2026
Sore itu, Alfiansyah berjalan bersama kakaknya, Sheryl, di tepi jalan. Hujan baru saja berhenti. Jalanan masih basah, dan udara terasa dingin.
Tiba-tiba mereka mendengar suara kecil dari balik tumpukan kardus.
“Meong… meong…” 🥺🐱
Alfiansyah berhenti dan melihat ke arah suara itu. Di sana ada beberapa anak kucing kecil yang tubuhnya kotor dan terlihat sangat lemah. Mereka berkumpul di dalam kardus bekas yang sudah basah.
Sheryl segera berjongkok.
“Kasihan sekali mereka, Alfiansyah…” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Alfiansyah mengambil seekor anak kucing yang menggigil. Ia memeluknya pelan-pelan.
“Jangan takut… kami di sini,” bisiknya.
Di dekat kardus itu, mereka menemukan tulisan sederhana:
“Maaf, kami tidak bisa merawatnya lagi.”
Hati Sheryl terasa hancur. Ia memandang anak-anak kucing itu dan berkata,
“Kalau mereka tidak punya siapa-siapa… siapa yang akan menjaga mereka?” 😭
Alfiansyah hanya diam. Ia mengusap kepala kucing kecil yang ada di pelukannya.
Mereka kemudian membawa makanan dan air seadanya. Sheryl membersihkan tubuh anak-anak kucing itu dengan kain, sementara Alfiansyah berusaha membuat mereka merasa hangat.
Salah satu anak kucing terus mengeong sambil menatap Alfiansyah.
Seolah-olah ia sedang berkata,
“Jangan tinggalkan aku lagi…” 💔
Alfiansyah menunduk dan memeluknya lebih erat.
“Tenang… aku tidak akan membuang kamu.”
Malam semakin gelap. Kendaraan terus berlalu di jalan itu. Tetapi di pinggir jalan yang sunyi, dua kakak beradik itu tetap bertahan menemani anak-anak kucing yang pernah dibuang.
Mereka mungkin tidak punya banyak uang.
Mereka mungkin tidak mampu menyelamatkan seluruh dunia.
Tetapi bagi anak-anak kucing itu, kebaikan kecil Alfiansyah dan Sheryl mungkin adalah seluruh dunia yang mereka punya. 😭🐱❤️
Kadang, makhluk yang paling membutuhkan pertolongan bukanlah yang bisa meminta dengan kata-kata… tetapi yang hanya mampu mengeong sambil menunggu seseorang datang menyelamatkannya. 💔
08/28/2026
Sore itu, langit mulai berubah warna. Matahari perlahan turun di balik bangunan yang belum selesai. Di sebuah tempat pembangunan yang dipenuhi tanah, puing-puing, dan tumpukan sampah, seorang anak kecil bernama Alfiansyah berjalan sendirian.
Alfiansyah bukan sedang mencari mainan.
Ia hanya ingin mencari sesuatu yang bisa dimakan.
Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti ketika ia mendengar suara kecil dari balik tumpukan sampah.
“Meong… meong…” 🥺
Alfiansyah segera mendekat. Di antara tanah dan benda-benda bekas, ia melihat seekor anak kucing kecil yang tampak lemah dan ketakutan.
Alfiansyah terdiam.
Ia tahu dirinya juga tidak punya banyak makanan. Tetapi melihat anak kucing itu sendirian membuat hatinya terasa sedih.
Dengan hati-hati, Alfiansyah mengangkat anak kucing itu menggunakan selembar kain yang ditemukannya.
“Jangan takut… aku akan menolongmu,” bisiknya.
Anak kucing itu kemudian menempel di tubuh Alfiansyah.
Untuk sesaat, Alfiansyah tersenyum.
Padahal dirinya sendiri sedang kesulitan.
Padahal ia juga belum tahu apakah malam nanti bisa makan atau tidak.
Namun Alfiansyah tetap memilih untuk berbagi apa yang ia punya.
Ia mencari sedikit air, lalu memberikan kepada anak kucing tersebut. Setelah itu, ia duduk di pinggir tumpukan sampah sambil memeluknya erat.
Saat matahari semakin tenggelam, Alfiansyah memandang langit.
“Kalau aku belum punya rumah yang nyaman… setidaknya kamu jangan sendirian,” katanya pelan.
Anak kucing itu mengeong kecil seolah menjawab.
Air mata Alfiansyah akhirnya jatuh.
Bukan karena dirinya.
Tetapi karena untuk pertama kalinya hari itu, ia merasa ada makhluk kecil yang benar-benar membutuhkan dirinya.
Malam itu, Alfiansyah tidak menyelamatkan dunia.
Ia hanya menyelamatkan seekor anak kucing.
Tetapi bagi anak kucing itu, Alfiansyah adalah seluruh dunianya. 💔🐱😭
Alfiansyah Lagi serius nonton guys 😂🤣
08/27/2026
Sore itu, hujan baru saja berhenti. Di depan sebuah rumah makan yang ramai, seorang anak kecil berdiri sendirian sambil memeluk seekor kucing jalanan yang tubuhnya kecil dan basah.
Anak itu tidak meminta makanan kepada siapa pun. Ia hanya duduk di pinggir jalan, memeluk kucing itu erat-erat.
“Jangan takut… aku di sini,” bisiknya pelan.
Dari dalam rumah makan, terdengar suara orang-orang sedang makan dan tertawa. Aroma makanan yang hangat keluar dari pintu. Anak itu menatap ke dalam sebentar, lalu menundukkan kepala.
Perutnya sebenarnya lapar.
Namun ketika melihat kucing kecil di pelukannya menggigil, ia justru mengusap kepalanya.
“Kamu lapar, ya? Maaf… aku juga belum punya makanan.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
Tak lama kemudian, seorang pelayan keluar membawa sisa makanan. Ia melihat anak kecil itu masih memeluk kucing tersebut.
“Kamu belum makan?”
Anak itu tersenyum kecil dan menggeleng.
“Tidak apa-apa, Pak. Kasih saja kucingnya dulu. Dia lebih lapar daripada aku.”
Pelayan itu terdiam.
Anak sekecil itu rela menahan lapar demi seekor kucing yang bahkan bukan miliknya.
Malam semakin gelap. Lampu rumah makan mulai menyala terang, sementara anak itu tetap duduk di luar, memeluk kucingnya.
Kucing itu akhirnya tertidur di dadanya.
Anak itu tersenyum sambil berbisik,
“Tidurlah… malam ini kita sama-sama tidak punya apa-apa. Tapi setidaknya kamu tidak sendirian… aku juga tidak.”
😭💔 Kadang, hati yang paling tulus justru datang dari mereka yang hidupnya paling sederhana.
08/25/2026
Sore itu, ketika matahari mulai tenggelam dan langit berubah menjadi keemasan, seorang anak kecil bernama Alfiansyah duduk sendirian di tepi jalan.
Di pangkuannya ada seekor kucing kecil yang terlihat lemah dan ketakutan. Tubuhnya kotor, dan ia hanya diam seolah sudah terlalu lelah untuk mencari pertolongan.
Alfiansyah memeluknya perlahan.
"Jangan takut... kamu tidak sendirian. Ada aku di sini." 😭💔
Padahal Alfiansyah sendiri tidak memiliki banyak makanan. Namun ketika melihat kucing itu kelaparan, ia memilih berbagi apa yang ia punya.
Ia mengusap kepala kucing kecil itu sambil menahan air mata.
"Kalau semua orang meninggalkanmu, aku tidak akan meninggalkanmu..." 😭
Jalanan mulai sepi. Kendaraan sesekali melewati mereka, sementara cahaya matahari semakin redup.
Alfiansyah hanya duduk memeluk kucing itu, berharap ada seseorang yang mau membantu.
Malam pun perlahan datang.
Tidak ada yang tahu bahwa di tepi jalan itu, seorang anak kecil sedang mengajarkan sesuatu yang sangat besar kepada dunia:
Kita tidak harus memiliki banyak harta untuk berbuat baik. Kadang, sedikit makanan, sebuah pelukan, dan rasa peduli sudah cukup untuk menyelamatkan hati makhluk yang sedang kesepian. 🥺🐈❤️
Semoga kebaikan kecil Alfiansyah menjadi jalan datangnya rezeki dan kebahagiaan untuknya.
Karena kebaikan yang dilakukan dengan tulus, sekecil apa pun, tidak pernah sia-sia. 🤲😭❤️
Click here to claim your Sponsored Listing.
Telephone
Website
Address
New York, NY
Alerts
Be the first to know and let us send you an email when Mohammad Alfiansyah posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.
